Gelora Pembebasan Kartini di Tengah Perjuangan Perempuan Nelayan Indonesia

Gelora Pembebasan Kartini di Tengah Perjuangan Perempuan Nelayan Indonesia
Suara Pembaca
Wakil Ketua Bidang Pergerakan Sarinah DPP GMNI, Fanda Puspitasari.

Oleh: Fanda Puspitasari
Wakil Ketua Bidang Pergerakan Sarinah DPP GMNI

Bulan April menjadi bulan yang sarat akan makna bagi bangsa Indonesia. Setidaknya terdapat dua momentum kebangsaan yang dapat diperingati dan dimaknai oleh masyarakat Indonesia dalam meneruskan estafet perjuangan membangun bangsa dan negara dalam naungan keadilan, kemanusiaan, dan pembebasan. Dua momentum tersebut adalah peringatan Hari Nelayan Nasional pada tanggal 6 April, dan Hari Kartini pada tanggal 21 April. Tulisan ini akan merefleksikan kedua momentum tersebut yang ditinjau dari perspektif perjuangan perempuan.

Kartini adalah Pendekar bagi Kaumnya

Kartini memang merupakan sosok perempuan yang berbeda. Pada zaman itu, Kartini hanyalah seorang remaja yang berusia belasan tahun, tetapi dia sudah memiliki pemikiran dan perspektif pembebasan, keadilan, kesetaraan, dan bahkan kemanusiaan. Maka, tidak heran ketika muncul istilah Kartini sebagai pendekar bagi kaumnya. Namun, sebagaimana nilai-nilai pembebasan yang selalu digaungkan Kartini secara universal, maka istilah ini harus dimaknai tidak hanya diperuntukkan untuk perempuan, tetapi juga diperuntukkan untuk masyarakat luas, yang nasibnya juga senantiasa disuarakan oleh Kartini.

Sebagai pendekar bagi kaum perempuan, Kartini memiliki keberpihakan kepada nasib perempuan. Kartini selalu menyuarakan bahwa perempuan berhak dan harus memiliki perspektif pembebasan. Salah satu bentuk nyata keberpihakan Kartini pada nasib perempuan ia wujudkan dengan membuat sekolah perempuan pertama di Indonesia. Keberpihakan Kartini pada perempuan ini menjadi pembuka pintu gerbang bagi kesadaran perempuan di Indonesia pada masa-masa selanjutnya untuk memperjuangkan kesetaraan dan keadilan.

Kartini adalah sosok perempuan yang mula-mula menggaungkan keadilan, kesetaraan, dan emansipasi bagi perempuan Indonesia. Perspektif keberpihakan Kartini ini pada akhirnya juga menjadi pintu gerbang masuknya pemikiran feminisme di Indonesia. Selain itu, Kartini sebagai seorang pendekar bagi kaum masyarakat, Kartini juga selalu menyuarakan kemanusiaan dan semangat anti penindasan bagi rakyat pribumi yang pada saat itu terjajah oleh feodalisme dan kolonialisme. Hal ini menunjukkan bahwa Kartini tidak egois dengan hanya memperjuangkan nasib perempuan saja, tetapi juga memperjuangkan kelayakan nasib bagi masyarakat luas. 
  
Kartini adalah Pejuang Kemanusiaan dan Kemerdekaan

Kartini merupakan sosok pejuang Indonesia yang memperjuangkan kemanusiaan. Kartini senantiasa menyuarakan bahwa penjajahan dan penindasan, oleh siapapun dan dalam bentuk apapun, adalah menentang kemanusiaan. Meskipun memiliki ayah seorang Bupati, yang dapat dikatakan merupakan “antek penjajahan Belanda”, komitmen keberpihakan Kartini tidak pernah goyah. Dia dan ayahnya adalah dua hal yang berbeda. Oleh karena itu, meskipun berasal dari golongan priayi, jangan sampai membuat kita masyarakat Indonesia yang meneruskan perjuangan kemanusiaan di masa sekarang ini, menegasikan peran dan pemikiran yang telah disuarakan dan digaungkan Kartini sepanjang hidupnya.

Kemanusiaan, keadilan, dan pembebasan, adalah nilai-nilai yang menjadi penting untuk kita maknai dari pemikiran dan semangat Kartini. Hari ini, nilai-nilai yang senantiasa diperjuangkan oleh Kartini sepanjang hidupnya, juga selalu dan masih diperjuangkan oleh pejuang perempuan. Aspek keadilan dan kemanusiaan masih menjadi suara-suara lantang yang disampaikan oleh pejuang perempuan. Hal ini karena, kondisi perempuan saat ini belum sepenuhnya mendapatkan keadilan. Ruang-ruang diskriminasi bagi perempuan masih begitu nampak jelas kehadirannya ditengah masyarakat modern.

Oleh sebab itu, sampai kapanpun keadilan akan terus disuarakan oleh pejuang perempuan dan kartini-kartini modern Indonesia. Meskipun Kartini dan pejuang perempuan pendahulu lainnya telah tiada, warisan pemikiran dan perjuangannya senantiasa abadi untuk diperjuangkan hingga akhir masa.

Perjuangan Perempuan Nelayan, Representasi Perjuangan Kartini Modern

Kondisi perempuan Indonesia memang masih belum dapat dikatakan sudah memasuki keadaan yang baik-baik saja. Masih banyak pekerjaan rumah dan permasalahan kaum perempuan yang harus segera dituntaskan, terutama oleh Pemerintah Indonesia. Ketidakadilan dan diskriminasi terhadap perempuan masih menunjukkan eksistensi yang berarti ditengah ruang-ruang sosial, politik dan ekonomi masyarakat. Realitas tersebut tergambarkan setidaknya dari kondisi yang dialami oleh perempuan yang bekerja sebagai nelayan. Perempuan nelayan di Indonesia masih belum mendapat perlakuan dan pengakuan yang adil dan tempat yang layak di tengah masyarakat.

Di daerah Demak, Provinsi Jawa Tengah misalnya, sejak beberapa tahun terakhir sebanyak 31 perempuan nelayan berjuang mendapatkan pengakuan atas profesi mereka. Kelompok perempuan nelayan tersebut belum mendapatkan hak sebagai nelayan, dimana pengakuan identitas bagi mereka sebagai pekerja nelayan belum mereka dapatkan secara merata. Mayoritas perempuan nelayan masih belum mendapatkan pengakuan yang sah atas profesi mereka sebagai nelayan. Padahal, secara aktivitas, kaum perempuan nelayan tersebut benar-benar melakukan kerja-kerja sebagai nelayan. Segala upaya dengan didampingi oleh lembaga-lembaga advokasi dalam bidang perikanan telah mereka lakukan. Mulai dari jalur birokratis hingga jalur non-birokratis telah mereka tempuh. Namun, masih belum membuahkan hasil yang diharapkan. 

Belum diakuinya identitas perempuan nelayan secara merata disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, perempuan nelayan hanya dianggap sebagai pembantu dalam pekerjaan nelayan, sehingga tidak layak diberi pengakuan identitas. Hal ini bahkan secara jelas tergambarkan dalam UU No.7 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam yang masih mengelompokkan perempuan nelayan sebagai bagian dari rumah tangga nelayan. Artinya, perempuan nelayan hanya dianggap sebagai pelengkap dalam aktivitas nelayan. Padahal, perempuan nelayan adalah profesi berbeda dan membutuhkan pengakuan yang khusus.

Selain itu, dari segi waktu dan tenaga yang dicurahkan, perempuan nelayan juga meluangkan porsi yang sama dengan laki-laki nelayan. Kedua, adanya stigma yang masih eksis melekat dalam masyarakat bahwa perempuan tidak memiliki kewajiban sebagai pencari nafkah. Sehingga, walaupun secara realita para perempuan tersebut melakukan pekerjaan sebagai nelayan, status dan identitas mereka tidak dapat diakui karena terhalang tembok besar berupa stigma sosial dan hukum yang tidak berpihak tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ketidakdilan dan diskriminasi masih dirasakan oleh perempuan di Indonesia.

Nilai-nilai luhur Kartini untuk memperjuangkan keadilan masih terus harus diperjuangkan. Hingga hari ini, perempuan nelayan di daerah Demak, Jawa Tengah masih terus melakukan perjuangan untuk mendapatkan pengakuan atas identitas pekerjaannya. Bahkan, diluar sana, di seluruh penjuru pesisir Nusantara, banyak perempuan nelayan yang juga sangat membutuhkan pengakuan atas profesi pekerjaannya. Tidak diakuinya mereka sebagai pekerja nelayan, dapat menimbulkan dampak buruk yang sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan mereka. Dampak yang secara nyata mereka alami adalah tidak bisa mendapat fasilitas bantuan dari pemerintah karena ketidakjelasan identitas profesi, dan masih banyak lagi dampak lainnya. 

Pemerintah seharusnya mau berpihak dan mendengar keluh kesan perempuan nelayan, karena berdasarkan laporan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) pada Juni 2019, perempuan nelayan sesungguhnya memegang peranan penting dalam rantai produksi perikanan. Keterlibatan mereka sangat besar dimulai dari sejak tahap prapoduksi, produksi, hingga pasca produksi yang jam kerjanya melebihi 17 jam sehari. Selain itu, KIARA juga memperoleh temuan bahwa perempuan nelayan memberikan kontribusi ekonomi lebih dari 60 persen bagi perekonomian keluarga. Oleh karena itu, pemerintah harus benar-benar lebih responsif terhadap permasalahan masyarakat kaum bawah. 

Sebagaimana Kartini yang selalu menyuarakan keadilan, kemanusiaan dan pembebasan untuk kaumnya, begitupula yang dilakukan oleh kaum perempuan nelayan yang tanpa henti menyuarakan keadilan dan kesamaan perlakuan atas pekerjaan yang mereka lakukan selama ini. Meskipun hanya dalam lingkup sesama perempuan yang bekerja sebagai nelayan, namun semangat perjuangan yang mereka gelorakan adalah wujud nyata perlawanan mereka terhadap praktek ketidakadilan dan diskriminasi yang pada realitanya masih menimpa perempuan di tengah masyarakat. Perjuangan perempuan nelayan atas nasibnya adalah representasi nyata gelora semangat perjuangan Kartini di era masyarakat modern. 

Akhirnya, peringatan Hari Kartini dan Hari Nelayan jangan hanya sekadar dimaknai sebagai momentum peringatan jasa-jasa, momentum kegiatan hiruk pikuk parade, deretan perlombaan, atau sekadar formalitas pengucapan selamat memperingati dalam ruang-ruang media sosial. Tetapi lebih dari itu, Hari Kartini dan Hari Nelayan adalah momentum bagi kita semua untuk menggelorakan semangat kemanusiaan, pembebasan, dan keadilan bagi  perempuan dan kelompok nelayan dalam bentuk perjuangan-perjuangan yang konkret dilakukan ditengah masyarakat, seperti yang dilakukan oleh kelompok perempuan nelayan yang memperjuangkan keadilan dan kesetaraan serta kelayakan nasibnya. 

…….”Berjuang dan menderitalah, tetapi berjuang untuk kepentingan yang Abadi…” (Kartini)

Semangat berjuang Para Nelayan Indonesia!
Semangat berjuang Para Kartini Nusantara!


Kontributor :
Editor : Swandy Tambunan
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar